Nasib Saham Ritel, Sudah Jatuh Tertimpa PSBB

Nasib Saham Ritel, Sudah Jatuh Tertimpa PSBB

Ellen May Institute  | 14/09/2020 09:13

DKI Jakarta akhirnya menarik “rem darurat” alias PSBB total lagi setelah tingkat pertumbuhan kasus aktif COVID-19 mengalami pertumbuhan yang massif di beberapa hari terakhir. Keputusan ini juga melihat kapasitas fasilitas kesehatan yang  sudah mulai penuh. Dalam keteranganya, Anies Baswedan mengatakan jika ada potensi RS sudah tidak bisa lagi menampung pasien per 17 September 2020.

Kembali diberlakukannya PSBB total bisa menjadi alarm terhadap ekonomi Indonesia. Kita ketahui bersama bagaimana dampak PSBB total jilid-I mampu membuat ekonomi Indonesia masuk ke zona negatif sebesar -5,32% pada paruh pertama 2020. Hampir semua sektor terdampak PSBB termasuk sektor ritel.

Penutupan gerai maupun mall memberi dampak terhadap operasional ritel yang menjadi salah satu potensi keramaian dan tempat berkumpul. Mengutip keterangan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey, sejak awal pandemi sampai saat ini sudah ada 10.000-an karyawan perusahaan ritel di PHK dan berpotensi bertambah. Lalu bagaimana prospek saham ritel?

Saham Ritel

Ritel

PSBB total di Jakarta akan kembali diberlakukan pada 14 September 2020, setelah 3 bulan terjadi pelonggaran. PSBB total berpotensi memberi dampak negatif pada saham-saham ritel. Mengacu pada data historis saham-saham ritel, penurunan penjualan pada semester 1 tidak terelakan. Saham-saham yang memiliki pangsa pasar menengah kebawah mengalami dampak yang besar seperti RALS (JK:RALS) dan LPPF (JK:LPPF). Penjualan semester-I RALS dan LPPF masing masing turun -57.76% dan -62.13%. Laba semester-I RALS dan LPPF pun terdepresiasi -99.09% dan -130.80%.  MAPI juga mengalami penurunan pendapatan dan laba sebesar -32.19% dan -175.87%.

Penurunan penjualan dan laba RALS, LPPF, dan MAPI (JK:MAPI) juga karena gerai mereka yang mayoritas berada di dalam mall sehingga dengan tutupnya mall otomatis gerai mereka juga ikut tutup. Berbeda dengan ketiga saham tersebut, ACES (JK:ACES) lebih “beruntung” karena mereka memiliki gerai-gerai di luar mall sehingga dampak yang dirasakan tidak separah RALS, LPPF, dan MAPI. ACES pada semester-I mengalami penurunan pendapatan dan laba masing-masing -7.83% dan -26.21%. Selain itu diversifikasi produk ACES yang juga menjual APD, desinfektan, handsanitizer yang dibutuhkan selama pandemi serta penjualan yang mulai tidak tergantung fisik membuat ACES menjadi lebih bisa bertahan.

 

ERAA (JK:ERAA) dibandingkan keempat saham diatas menjadi saham yang mengalamai penurunan penjualan dan laba yang lebi sedikit. Pada semester-I 2020, ERAA mengalami penurunan pendapatan dan laba  masing-masing -6.26% dan -0.14%

 

PSBB Jilid II

Keijakan PSBB total berpotensi membuat kinerja keuangan saham-saham ritel tersebut menjadi berat terutama pada tahun 2020. Saham RALS dan LPPF kami pandang akan merasakan dampak tebesar. Hal ini dikarenakan RALS dan LPPF terancam menutum gerai dan juga kembali kehilangan momentum belanja pada akhir tahun nanti. Sejak 2016, momentum lebaran menjadi pendongkrak penjualan RALS dan LPPF. Mengingat lebaran tahun 2020 masih dalam masa PSBB, momentum akhir tahun menjadi harapan untuk mendongkrak penjualan kedua saham tersebut

Pendapatan

MAPI juga berpotensi menambah rugi pada semester-I di akhir tahun jika pada PSBB total kali ini mall harus ditutup. Di sisi lain ACES yang saat ini akan terbantu dengan gerai diluar mall dan juga penjualan alat kesehatan yang dibutuhkan saat pandemi serta switching penjualan dari offline menjadi online. ERAA kami lihat juga akan mengalami dampak yang cukup besar jika melihat daya beli masyarakat yang masih rendah saat ini.

Teknikal

Pengumuman PSBB membuat IHSG pada perdagangan kemarin (10/9) mengalami penurunan yang dalam, bahkan sempat trading halt. Ini juga membuat saham-saham ritel seperti RALS, LPPF, MAPI, ACES, dan ERAA mengalami penurunan harga yang dalam hingga terjadi ARB.

Jika dilihat dalam grafik, saham RALS, LPPF, dan MAPI masih berada pada masa sidewaysnya yang panjang.  Sementara saham ACES dan ERAA keluar dari masa uptrendnya.

Kesimpulan

Pada tahun 2020 untuk investasi saham ritel masih kurang menarik untuk investasi karena pandemi yang membuat kinerja akan memburuk. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah daya beli masyarakat Indonesia saat pandemi. Pada bulan Juli saat PSBB sudah dilonggarkan penjualan ritel masih terkontraksi -12.3%.

Di sisi lain, secara teknikal saham ritel pun masih belum menarik karena masih berada di masa sideways dan juga patah trend. Untuk saat ini lebih baik menahan untuk trading sampai IHSG sudah lebih kondusif dan momentum beli sudah ada lagi.

Ellen May Institute

Artikel Terkait

Komentar terkini

Tambahkan Komentar
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.
Tuanku Yanto yang Mulia
Tuanku Yanto yang Mulia

sok tau luh tante...  ... (Baca Selengkapnya)

14/09/2020 02:32 GMT· Balas
Diskusi
Tulis balasan...
Harap tunggu sesaat sebelum Anda berikan komentar lagi.

Perdagangan instrumen finansial dan/atau mata uang kripto membawa risiko tinggi, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh nilai investasi Anda, dan mungkin tidak sesuai untuk sebagian investor. Harga mata uang kripto amat volatil dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti peristiwa finansial, regulasi, atau politik. Trading dengan margin meningkatkan risiko finansial.
Sebelum memutuskan untuk memperdagangkan instrumen finansial atau mata uang kripto, Anda harus sepenuhnya memahami risiko dan biaya terkait perdagangan di pasar finansial, mempertimbangkan tujuan investasi, tingkat pengalaman, dan selera risiko Anda dengan cermat, serta mencari saran profesional apabila dibutuhkan.
Fusion Media mengingatkan Anda bahwa data di dalam situs web ini tidak selalu real-time atau akurat. Data dan harga di situs web ini. Data dan harga yang ditampilkan di situs web ini belum tentu disediakan oleh pasar atau bursa, namun mungkin disediakan oleh pelaku pasar sehingga harga mungkin tidak akurat dan mungkin berbeda dengan harga aktual pasar. Dengan kata lain, harga bersifat indikatif dan tidak sesuai untuk tujuan trading. Fusion Media dan penyedia data mana pun yang dimuat dalam situs web ini tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kehilangan apa pun yang diakibatkan oleh trading Anda atau karena Anda mengandalkan informasi yang dimuat dalam situs web ini.
Anda dilarang untuk menggunakan, menyimpan, memperbanyak, menampilkan, mengubah, meneruskan, atau menyebarkan data yang dimuat dalam situs web ini tanpa izin eksplisit tertulis sebelumnya dari Fusion Media dan/atau penyedia data. Semua hak kekayaan intelektual dipegang oleh penyedia dan/atau bursa yang menyediakan data yang dimuat dalam situs web ini.
Fusion Media mungkin mendapatkan imbalan dari pengiklan yang ditampilkan di situs web ini berdasarkan interaksi Anda dengan iklan atau pengiklan.

English (USA) English (UK) English (India) English (Canada) English (Australia) English (South Africa) English (Philippines) English (Nigeria) Deutsch Español (España) Español (México) Français Italiano Nederlands Português (Portugal) Polski Português (Brasil) Русский Türkçe ‏العربية‏ Ελληνικά Svenska Suomi עברית 日本語 한국어 简体中文 繁體中文 Bahasa Melayu ไทย Tiếng Việt हिंदी
Keluar
Yakin ingin keluar?
TidakYa
BatalkanYa
Menyimpan Perubahan

+

Unduh Aplikasi Investing.com

Dapatkan quote, grafik, dan Peringatan real time gratis mengenai saham, indeks, mata uang, komoditas, dan obligasi. Dapatkan analisis/prediksi teknikal terbaik gratis.

Investing.com lebih baik di Aplikasi!

Lebih banyak konten, grafik dan quote lebih cepat, dan pengalaman yang lebih mulus tersedia hanya di Aplikasi.

';